Dari Keripik hingga Wine: Kreasi Olahan Salak yang Mulai Dilirik Pasar Ekspor
Olahan salak dari keripik, dodol, wine, cuka, hingga skincare mulai dilirik pasar ekspor. Inovasi pelaku UMKM membuka peluang ekonomi baru.

Fakta Kunci
- Salak adalah sejenis palma dengan buah yang biasa dimakan, dikenal juga sebagai sala, dan dalam bahasa Inggris disebut salak atau snake fruit karena kulitnya mirip sisik ular.
- Keripik salak menjadi salah satu produk olahan pertama yang menembus pasar ekspor karena daya tahan lama dan permintaan pasar snack sehat.
- Wine salak diproduksi oleh pelaku UMKM dengan proses fermentasi yang menghasilkan cita rasa unik, diminati pasar Eropa dan Asia Timur.
- Cuka salak muncul sebagai alternatif cuka buah alami dengan kandungan antioksidan yang mulai dipasarkan ke negara tujuan ekspor.
- Ekstrak salak digunakan dalam produk skincare lokal karena kandungan vitamin C dan antioksidannya yang berpotensi untuk perawatan kulit.
Pagi di Desa Sumberejo, Keripik Salak Sudah Masuk Kemasan Ekspor
Pukul lima pagi, Ibu Sri Mulyani sudah berdiri di depan mesin vacuum frying di bengkel kerja rumahnya, Dusun Sumberejo, Turi, Sleman. Uap minyak yang beraroma tajam memenuhi ruangan. Di tangannya, irisan-irisan tipis salak pondoh dari kebun tetangga berubah menjadi keripik renyah berwarna kuning keemasan. Dulu, dia hanya menjual keripik ini di warung-warung dekat Candi Prambanan. Sekarang, sebagian besar produksinya dikirim ke Surabaya untuk diekspor ke Singapura dan Malaysia. Sri bukan satu-satunya. Di kabupaten yang terkenal dengan salak pondohnya ini, puluhan rumah tangga kini menjalankan usaha olahan salak skala kecil. Mereka tak lagi menjual buah segar saja. Keripik, dodol, wine, cuka, hingga bahan baku skincare kini menjadi produk yang dicari pembeli, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Salak, buah palma dengan kulit mirip sisik ular yang dalam bahasa Inggris disebut snake fruit ini, bukan sekadar komoditas musiman. Ia berubah menjadi peluang ekonomi yang lebih stabil.
Dodol dan Wine: Dua Ujung Inovasi yang Tak Terduga
Selain keripik, dodol salak menjadi produk yang bertahan di pasaran lokal. Proses pembuatannya yang lama, sekitar enam hingga delapan jam pengadukan, menghasilkan tekstur kenyal dan rasa manis-asam khas salak. Dodol ini mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional sekitar Sleman dan Magelang, dengan harga yang relatif terjangkau. Di sisi lain, ada produk yang jauh lebih mengejutkan: wine salak. Beberapa produsen kecil di Yogyakarta dan Jawa Tengah mulai memfermentasi salak menjadi minuman beralkohol. Prosesnya memakan waktu berbulan-bulan. Hasilnya, wine dengan cita rasa floral dan sedikit asam yang mendapat respons positif dari pembeli di Jepang dan Korea Selatan saat pameran internasional beberapa tahun terakhir. Permintaan ini mendorong para produsen untuk memperbaiki kualitas dan standar keamanan pangan, agar bisa memenuhi ketatnya regulasi ekspor.
Cuka Salak dan Skincare: Potensi yang Belum Sepenuhnya Tergarap
Produk yang lebih baru muncul: cuka salak. Prosesnya mirip dengan cuka apel atau cuka kurma, menggunakan fermentasi bakteri asam asetat pada jus salak. Cuka ini dipasarkan sebagai minuman kesehatan alami, meskipun klaim medisnya belum banyak diteliti secara klinis. Di sisi lain, industri kecantikan lokal mulai melirik ekstrak salak sebagai bahan baku skincare. Beberapa brand lokal di Yogyakarta dan Jakarta menggunakan ekstrak salak dalam produk serum dan masker wajah, mengandalkan kandungan vitamin C dan antioksidan yang ada pada buah ini. Peluang ekspor untuk produk skincare berbahan salak masih terbuka lebar, terutama ke negara-negara yang sudah familiar dengan produk-produk Asia Tenggara. Namun, tantangan tetap ada: standar halal, sertifikasi BPMA, dan konsistensi pasokan bahan baku. Pelaku UMKM yang ingin menembus pasar ekspor harus menghadapi rangkaian proses yang panjang. Bagi Sri Mulyani dan rekannya, setiap kotak keripik yang keluar dari bengkelnya adalah bukti bahwa salak tidak hanya menjadi buah yang dijual di pinggir jalan. Ia menjadi produk yang bisa menyeberang laut.
Orang Juga Bertanya
Apa itu salak?
Salak adalah sejenis palma dengan buah yang biasa dimakan. Dikenal juga sebagai sala, dan dalam bahasa Inggris disebut salak atau snake fruit karena kulitnya mirip sisik ular.
Olahan salak apa yang sudah menembus pasar ekspor?
Keripik salak menjadi produk olahan utama yang sudah diekspor ke Singapura dan Malaysia. Wine salak juga mulai diminati pasar Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan.
Bagaimana proses pembuatan wine salak?
Wine salak dibuat melalui proses fermentasi jus salak yang memakan waktu berbulan-bulan, menghasilkan minuman beralkohol dengan cita rasa floral dan sedikit asam.
Apakah salak bisa digunakan untuk produk skincare?
Ya, beberapa brand skincare lokal sudah menggunakan ekstrak salak dalam produk serum dan masker wajah karena kandungan vitamin C dan antioksidannya.